Kasih Ibu Sepanjang Masa Kasih Anak Sepanjang Jalan, begitulah peribahasa yang mengandung banyak arti dalam kehidupan. Ibu sosok yang sangat berjasa dikehidupan kita. mari kita simak cerita dari seorang anak yang awalnya selalu bersama dengan ibunya namun terpisah karena pekerjaannya.
Barru, desa yang merupakan tempat kelahiran ku, namaku Firman yang merupakan buah hati dari pasangan Bahar dan Rostia. Saya adalah anak tunggal, kata orang saya merupakan sosok penyayang, baik hati, ramah dan pandai bergaul. Saya sangat sayang dengan Ibuku. Ibuku adalah segalanya bagiku, dia yang telah bersusah payah melahirkanku, memberiku makan menyuapiku dan bahkan dia selalu merasa tidak enak ketika saya tidak bersamanya. Ayahku sudah meninggal, setahun setelah saya dilahirkan, aku sedih dengan itu, namun aku masih beruntung karena masih mempunyai seorang Ibu yang dapat aku sayangi. Ohh iya, Keseharianku tidak luput dari pembelajaran, saya merupakan siswa yang pandai di sekolahku. Seringkali prestasiku membuat Ibuku bangga atas kehadiranku. Hingga ketika saatnya Aku beranjak dewasa, semuanya terasa telah berbeda dan tidak seperti sebelumnya.
Seperti anak muda yang lain, kini saya melanjutkan perguruanku kejenjang yang lebih tinggi, pada kondisi seperti ini, saya harus merelakan saat-saat kebersamaan dengan orang tuaku dan berusaha untuk mencapai cita-citaku. “bagaimana baiknya kalau ibu pindah saja di dekat sekolahku?” kataku kepada ibu. “tidak usah nak, Ibu tidak apa-apa kok, aku ingin anak Ibu belajar lebih mandiri lagi agar kelak akan bermamfaat bagi Ibu” jawab ibuku dengan penuh senyuman. Mendengar perkataan Ibuku, akupun berusaha untuk melanjutkan sekolahku, karena sudah lama memikirkannya, Akupun melanjutkan sekolahku ddiluar daerah dan kini hidupku sendirian dirumah kos tanpa adanya suara ibuku yang terdengar merdu seperti sebelum-sebelumnya.
Seperti anak muda yang lain, kini saya melanjutkan perguruanku kejenjang yang lebih tinggi, pada kondisi seperti ini, saya harus merelakan saat-saat kebersamaan dengan orang tuaku dan berusaha untuk mencapai cita-citaku. “bagaimana baiknya kalau ibu pindah saja di dekat sekolahku?” kataku kepada ibu. “tidak usah nak, Ibu tidak apa-apa kok, aku ingin anak Ibu belajar lebih mandiri lagi agar kelak akan bermamfaat bagi Ibu” jawab ibuku dengan penuh senyuman. Mendengar perkataan Ibuku, akupun berusaha untuk melanjutkan sekolahku, karena sudah lama memikirkannya, Akupun melanjutkan sekolahku ddiluar daerah dan kini hidupku sendirian dirumah kos tanpa adanya suara ibuku yang terdengar merdu seperti sebelum-sebelumnya.
Sekarang
saya sudah mulai masuk sekolah, mempunyai banyak teman dan mulai
menyesuaikannya dengan keadaanku. Dirumah kos saya hanya memakan makanan
seadanya saja, terkadang hanya membelinya diluar dan terkadang pula saya
membuatnya sendiri, terasa aneh namun harus ku lalui, masakan Ibu yang dulunya
selalu kumakan sekarang terasa sudah jauh sekali. Terkadang, apabila dalam
waktu senggang, aku menelpon ibuku untuk melepas kerinduanku. “Assalamu’alaikum”
kataku melalui telepon, “Walaikum salam” jawab Ibu. “bagaimana keadaan ibu
sekarang? Apa Ibu baik-baik saja” tanyaku. “Ohh kau nak, Ibu baik-baik saja
kok, Firman bagaimana? Firman ngak usah khawatir, Firman belajar saja agar
cita-citanya bias tercapai.” Jawab Ibu. “Firman baik-baik aja kok Bu.” Jawabku.
“Kalau begitu, bagaimana dengan sekolahmu?” Tanya Ibuku. “baik-baik kok bu,
sekolahnya menyenangkan kok Bu,” jawabku. Telepon kami pun putus dan akupun
pulang ke rumah kosku.
Semester
terakhir sudah kulalui dan akhirnya Wisuda pun sudah kujalani. Kini, aku sudah
bekerja, di salah satu perusahaan ternama di daerah itu. Gajiku sudah cukup
untuk memenuhi kebutuhanku, terlebih khusus untuk kebutuhan orang tuaku,
terkadang saya mengirimkan uang melalui bank kepada Ibu, dan pernah sesekali
aku mengirimkannya sebuah goresan tulisanku yang berisi tentang keadaanku sekarang.
Ibu ku …
Kini aku sudah bekerja
Bekerja dengan apa yang telah engkau katakan
sebelumnya
Kukejar cita-citaku
Karena dengan hal itulah
Hidup ku akan bermamfaat bagi Ibu
nantinya
Walaupun sangat sederhana, namun aku berharap Ibu mampu memahami setiap goresan kata yang telah kutuliskan kepadanya.
*****
Seperti anak muda pada
umumnya, aku sudah mulai merasakan cinta, cinta ini pertama kali kurasakan
kepada wanita yang merupakan cinta pandangan pertamaku, namanya Lisa. Lisa itu
orangnya cantik, baik, lembut, penyayang, humoris dan paling penting dia itu
orangnya sholeha. Hubunganku dengannya awalnya hanya sebagai teman saja namun lama
kelamaan perasaan itu berubah dan kami memutuskan untuk berpacaran. Hubungan
kami berlangsung baik, hubungan ini berlangsung sudah cukup lama dan akhirnya
kami berdua memutuskan untuk melanjutkannya ke hubungan yang lebih serius lagi,
yakni hubungan suami istri.
“Alhamdulillah”, itulah
yang selalu terpikir dibenakku setelah Lisa bersedia dan menerima lamaranku
untuk menjadi suaminya. Berbagai persiapan telah kulakukan, termasuk memilih
pakaian pengantin yang sesuai untukku dan Lisa. Pakaian pengantin yang kami
gunakan merupakan pakaian adat jawa, kebetulan Lisa merupakan orang jawa.
Pernikahan itu akan
berlangsung dalam beberapa hari lagi, dag..dig..dug.. begitulah perasaan yang
kurasakan. Hingga waktu itu tiba, aku sangat senang karena dalam pernikahan
ini, semuanya berjalan dengan sangat lancar. Dan akhirnya Aku dan Lisa sudah
resmi menjadi pasangan suami istri.
*****
Setahun kemudian, Aku
sudah mempunyai seorang anak. Kini, semuanya telah membuat hidupku terasa
sempurna dengan keberadaan mereka. Anakku bernama Hafiz, aku memberikan dia
nama seperti itu agar nantinya sesuai dengan arti namanya bahwa dia akan pandai
dalam menghafal Al-Qur’an.
Kini, kesibukanku pada
pekerjaanku membuat waktu bersama keluargaku terasa berkurang, setidaknya aku
bersama mereka hanya ketika waktu malam saja, itupun mereka semua sudah
tertidur pulas.
Pekerjaan ini memang
sangat sibuk sekali, mengurus semua urusan perusahaan tanpa memikirkan keluarga
itu sangat susah, terkadang aku bingung memikirkan mengapa aku sibuk dengan pekerjaanku
sendiri padahal dengan keluargaku aku hanya biasa-biasa saja, tapi apabila aku
putus kerja, mau bagaimana lagi dengan keluargaku, dimana lagi aku bisa
bekerja, bagaimana aku mencarikan mereka uang, bagaimana aku bisa melengkapi
kebutuhanku, bagaimana semuanya bisa kuatasi tanpa adanya pekerjaanku itu.
Semuanya sudah ku pikirkan, aku hanya meneruskan untuk bekerja saja, walaupun
waktu bersama keluarga terasa berkurang, setidaknya mereka tahu bahwa ini demi
kebaikan kami, demi kelanjutan hidup kami, dan demi pemenuhan kehidupan
sehari-hari.
Seringkali Ibuku menelpon
ku. “Haloo, kau nakkk Firman? Ini ibu nak, bagaimana keadaan mu?” ucap Ibuku.
“Bu, teleponnya nanti aja yah bu, Firman lagi sibuk nih, masih banyak yang aku
urus Bu, udah dulu yah Bu” jawabku. Ibuku memang sering menelpon ku namun, dia
menelpon pada waktu yang tidak tepat, setiap kali aku sibuk dengan pekerjaanku,
dia menelpon lagi, padahal sebenarnya saya juga ingin menelponnya, namun susah
dengan keadaan seperti sekarang ini.
Kringgg.kringg..kringg..
ternyata itu bunyi hapeku, Aku angkat dan ternyata yang menelpon adalah Ibuku…
“Iya bu, Ibu kenapa??” tanyaku langsung kepada Ibu. “Tidak kok nak, Ibu hanya
ingin tahu kondisi anakku saja, apakah Firman baik-baik saja?” Tanya Ibuku.
“Firman baik-baik aja kok bu, bagaimana dengan keadaan Ibu?” tanyaku kembali
kepada Ibu. “I.. Ibuuu… Ibu baik-baik aja kok nak, ohh iya, bagaimana hubungan
mu dengan Istrimu? Baik-baik saja kan?” Tanya Ibuku lagi. “Iyaa, baik-baik aja
kok Bu” jawabku. “sudah dulu yah bu, saya ingin lanjut pekerjaanku, masih
banyak nih yang mau saya urus” Kataku kepada Ibu. “baiklah nak, jaga diri
baik-baik yah, assalamu’alaikum” ucap Ibu, “wa’alaikum salam” jawabku sambil
menutup sambungan teleponku dengan Ibuku.
Setelah beberapa hari
berlalu, suatu saat aku pulang kerumah, Istri dan Anakku sudah menunggu,
tadinya memang mereka menyuruh saya untuk pulang kerumah, entah apa yang ingin
mereka katakan, tapi ahh, saya pergi saja. Setelah sampai dirumah, aku bingung
dan bertanya kepada Istriku “sebenarnya ada apa ni? Kenapa semuanya terlihat
seperti itu?” tanyaku dengan kebingungan. “Ibumu Firman, Ibumuu” kata Istriku.
“Emangnya kenapa dengan Ibuku? Ibuku baik-baik aja kok, beberapa hari yang lalu
aku baru saja menelpon dengannya dan katanya dia baik-baik aja kok” kataku. “Ibumuu,
Ibumuu meninggal Man” Jawab Istriku dengan sedihnyaa. “Ibuku meninggal?” akupun
pingsan mendengar kata Istriku tadi.
Sekarang saya sudah tersadar,
tanpa berpikiran panjang Saya dan Lisa beserta anakku bergegas mengambil barang
dan memilih untuk pulang kekampungku. Kami pulang dengan menggunakan pesawat
karena dengan itulah kami bias secepatnya sampai dirumahku.
Beberapa jam berlalu,
akhirnya saya sudah sampai dibandara daerah ku, kini saya hanya menunggu
kendaraan saja, karena sudah kelamaan nunggunya akhirnya mobil itupun datang,
perjalanan kerumah memang mebutuhkan waktu sekitar satu- dua jam, karena
waktunya selama itu, Isti dan Anak ku tertidur di mobil yang kami tumpangi.
Akhirnya kami pun sampai kerumah, tapi kami harus berjalan lagi, memang jalan
untuk menuju kerumah kita harus melewati lorong dulu, mana mungkin mobil itu
mengantarkan kami masuk sampai didepan rumah, jadi kami hanya diantarkan sampai
lorong saja. Kamipun berjalan hingga tepat didepan rumah, terlihat bendera
putih. Barang yang kubawa tadinya langsung kujatuhkan, aku segera berlari masuk
kedalam rumah, ternyata benar yang dikatakan oleh Istriku, Ibuku meninggal,
ternyata Ibuku meninggal karena sudah sakit dari dulu, Ibuku merahasiakan
sakitnya ini dariku karena dia hanya ingin tidak menjadi beban bagi anaknya.
Aku juga tidak terpikir dengan semua itu, kupikir Ibu hanya baik-baik saja, Aku
pikir Ibu hanya senang dengan keadaanku sekarang ternyata semua demi
kebaikanku. Aku menangis di atas mayat Ibuku, aku berpikir bagaimana caranya
untuk memutar waktu kembali, seperti sebelumnya aku bersama-sama dengannya,
menghabiskan hariku bersamanya, makan dan bermain bersamanya. Mayat Ibuku
sekarang sudah dikuburkan didekat kuburan ayahku. Kesedihan masih kurasakan,
aku masih ingat kenangan bersama Ibuku. Aku masih merenung dan meratapi nasibku
ini, hingga suatu saat aku yakin, pasti nantinya aku akan bertemu dengan Ibuku
lagi, entah kapanpun itu, dimanapun itu, dan bagaimanapun itu, aku hanya yakin
dengan itu.
Jika memang aku masih bisa
berbicara dengan Ibu, aku hanya ingin meminta maaf, minta maaf karena
menyia-nyiakan sisa hidupku untuk urusan lain, bukan dengan urusan bersama ibu,
bukan pula dengan urusan mengisi sisa hidupnya bersamaku. Kini aku tersadar
ternyata memang benar Kasih ibu sepanjang masa kasih anak sepanjang jalan itu
ternyata benar adanya. Memang seorang ibu sayang kepada anak-anaknya, selalu
memikirkan anak-anaknya, namun kita sebagai seorang anak hanya memikirkannya
diwaktu tertentu saja, ketika ada kemauan kepada Ibu.
maaf bila penulisan kalimatnya tidak baik atau kurang enak ketika anda membacanya. saya hanya manusia biasa.
maaf bila penulisan kalimatnya tidak baik atau kurang enak ketika anda membacanya. saya hanya manusia biasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar